Kenapa Succession Planning Sering Gagal di Perusahaan

Banyak perusahaan bicara soal succession planning, tapi eksekusinya lemah. Hasilnya: kekosongan posisi kritikal, transisi kepemimpinan kacau, dan hilangnya momentum bisnis. Pelajari akar masalah dan cara memperbaikinya.

Ilustrasi Awal:
Sebuah bank besar kehilangan salah satu direktur utamanya karena pensiun mendadak. Manajemen panik: siapa yang akan menggantikan posisi strategis ini?
Meski bertahun-tahun menyebut punya succession plan, ternyata daftar kandidat pengganti tidak siap.
Akhirnya, posisi diisi orang luar yang butuh waktu lama untuk adaptasi—sementara kompetitor sudah bergerak lebih cepat.

Masalah:
Succession planning yang gagal membuat perusahaan rentan kehilangan arah saat terjadi transisi. Dampaknya:

  • Posisi kritikal kosong terlalu lama.
  • Karyawan internal kehilangan motivasi karena jalur karir tidak jelas.
  • Perusahaan bergantung pada talent eksternal dengan biaya tinggi.

Tanda-Tanda Succession Planning Tidak Efektif:

  • Daftar suksesi hanya formalitas, tidak diperbarui.
  • Kandidat internal tidak diberi kesempatan mengembangkan keterampilan kepemimpinan.
  • Posisi strategis sering diisi dari luar, bukan dari internal.
  • Perubahan kepemimpinan memicu ketidakstabilan tim.

Penyebab Utama:

  1. Succession Plan Tidak Hidup – Dokumen dibuat, tapi tidak pernah dipraktikkan.
  2. Kurang Eksposur Kandidat – Talenta internal tidak diberi pengalaman memimpin proyek atau divisi.
  3. Fokus Hanya pada Top Level – Succession planning sering terbatas pada posisi CEO/Board, padahal middle management juga krusial.
  4. Budaya Politik Internal – Penentuan suksesor lebih banyak dipengaruhi koneksi, bukan kompetensi.

Solusi HR: Succession Planning yang Efektif

  • Perbarui Daftar Kandidat Secara Berkala – Evaluasi minimal setiap 6–12 bulan.
  • Berikan Rotasi dan Stretch Assignment – Agar kandidat potensial mengasah kepemimpinan nyata.
  • Bangun Pipeline Multi-Level – Tidak hanya top management, tapi juga key experts dan middle leaders.
  • Gunakan Assessment Berbasis Kompetensi – Untuk mengurangi bias politik.

Tabel: Succession Planning Lemah vs Kuat

AspekSuccession LemahSuccession Kuat
Kandidat InternalTidak siap, minim pengalamanDiberi rotasi dan mentoring
PerencanaanSekadar formalitas dokumenDinamis, diperbarui rutin
FokusHanya CEO/top managementSemua posisi kritikal
Dampak BisnisKekosongan posisi, adaptasi lamaTransisi mulus, bisnis tetap stabil

HR Action Plan:

  • Identifikasi posisi kritikal yang butuh succession plan.
  • Mapping kompetensi karyawan potensial.
  • Buat program rotasi dan shadowing.
  • Monitor readiness kandidat dengan 9-box grid.
  • Laporkan perkembangan ke manajemen senior.

Kesimpulan:
Succession planning yang kuat bukan hanya tentang menyiapkan pengganti, tetapi membangun pipeline kepemimpinan berkelanjutan.
Tanpa ini, perusahaan akan terus kehilangan momentum setiap kali terjadi transisi.

Stay Updated!

Subscribe to get the latest blog posts, news, and updates delivered straight to your inbox.

By pressing the Sign up button, you confirm that you have read and are agreeing to our Privacy Policy and Terms and Conditions