Employer branding yang hanya fokus pada citra luar tanpa konsistensi internal membuat perusahaan gagal menarik dan mempertahankan talenta terbaik. HR perlu membangun employer branding yang otentik, konsisten, dan relevan.
Ilustrasi Awal:
Sebuah perusahaan teknologi gencar membuat kampanye employer branding dengan slogan “Tempat Terbaik untuk Berkembang”. Mereka tampil keren di media sosial, dengan foto karyawan muda yang energik.
Namun, realita di dalam perusahaan berbeda: jam kerja panjang, budaya feedback minim, dan promosi lebih didorong politik internal.
Akibatnya, talenta yang masuk dengan ekspektasi tinggi justru kecewa, turnover meningkat, dan reputasi perusahaan jatuh di mata kandidat.
Masalah:
Employer branding yang lemah atau tidak konsisten akan membuat:
- Talenta potensial skeptis terhadap janji perusahaan.
- Tingkat turnover tinggi karena ekspektasi tidak terpenuhi.
- Biaya rekrutmen meningkat karena perusahaan harus selalu mencari kandidat baru.
Tanda-Tanda Employer Branding Gagal:
- Banyak review negatif di platform pekerjaan.
- Kandidat top menolak tawaran meski gaji kompetitif.
- Narasi eksternal tidak sesuai dengan pengalaman karyawan internal.
- Engagement survey menunjukkan ketidakpuasan tinggi.
Penyebab Utama:
- Hanya Fokus pada Marketing – Branding dianggap sekadar kampanye media sosial, bukan realita pengalaman kerja.
- Tidak Ada Employee Value Proposition (EVP) Jelas – Perusahaan tidak bisa menjawab apa yang membuat mereka berbeda.
- Kurang Konsistensi Internal – Budaya dan praktik HR tidak mendukung narasi employer branding.
- Minim Involvement Karyawan – Employer branding dibuat top-down, tanpa suara nyata dari karyawan.
Solusi HR: Employer Branding yang Efektif
- Bangun EVP yang Nyata – Identifikasi keunikan perusahaan: apakah itu peluang karir, lingkungan kerja kolaboratif, atau inovasi.
- Selaraskan Internal dan Eksternal – Pastikan pengalaman karyawan sejalan dengan janji yang dikomunikasikan keluar.
- Libatkan Karyawan Sebagai Ambassador – Cerita autentik dari karyawan jauh lebih kuat daripada iklan formal.
- Pantau dan Kelola Reputasi Online – Tanggapi review secara terbuka, tunjukkan komitmen untuk perbaikan.
Tabel: Employer Branding Lemah vs Kuat
| Aspek | Employer Branding Lemah | Employer Branding Kuat |
|---|---|---|
| Narasi | Generik, copy-paste dari kompetitor | Unik, sesuai nilai perusahaan |
| Konsistensi Internal | Tidak sesuai dengan realita kerja | Sejalan dengan budaya perusahaan |
| Dampak Rekrutmen | Kandidat skeptis, sulit menarik top talent | Menarik kandidat berkualitas tinggi |
| Retensi | Tinggi turnover | Loyalitas lebih kuat |
HR Action Plan:
- Definisikan EVP dengan melibatkan karyawan lintas level.
- Review dan sesuaikan proses HR agar konsisten dengan janji employer branding.
- Kembangkan program employee storytelling di media sosial.
- Monitor candidate experience secara berkala untuk memastikan reputasi tetap positif.
Kesimpulan:
Employer branding bukan sekadar logo keren atau tagline menarik. Ia adalah cerminan dari realita pengalaman kerja karyawan. Perusahaan yang gagal memahami ini akan terjebak dalam siklus turnover tinggi dan reputasi buruk.
Sebaliknya, employer branding yang otentik dan konsisten bisa menjadi magnet talenta berkualitas, sekaligus memperkuat retensi karyawan.
Pada akhirnya, employer branding terbaik adalah ketika karyawan sendiri dengan bangga berkata: “Ini memang tempat terbaik untuk berkembang.”
