Job architecture membantu organisasi membangun struktur jabatan yang jelas, adil, dan scalable. HR dapat menggunakannya untuk mendukung career pathing, kompensasi, dan perencanaan talenta.
Ilustrasi Awal:
Sebuah startup tumbuh cepat dari 30 ke 200 karyawan.
Tanpa job architecture, jabatan “manager” muncul di setiap tim dengan definisi berbeda.
Akibatnya, muncul konflik soal kompensasi, promosi tidak konsisten, dan karyawan bingung dengan level karier.
Masalah:
Tanpa job architecture, organisasi sulit menjaga keadilan internal, transparansi karier, dan konsistensi dalam kompensasi.
Elemen Utama Job Architecture:
- Job Families – Kategori besar (contoh: Finance, Marketing, IT).
- Job Levels – Hirarki jabatan dari entry level hingga eksekutif.
- Job Profiles – Ringkasan peran, tanggung jawab, dan kompetensi.
- Career Paths – Jalur vertikal dan lateral yang tersedia.
Manfaat Job Architecture:
- Transparansi karier bagi karyawan
- Konsistensi kompensasi & grading
- Mendukung workforce planning
- Menjadi basis talent management & succession planning
Tabel: Dampak Ada vs Tidak Ada Job Architecture
| Kondisi Organisasi | Dampak pada Karyawan | Dampak pada Bisnis |
|---|---|---|
| Tanpa Job Arch. | Bingung, frustrasi, resign | Konflik, turnover |
| Dengan Job Arch. | Jelas, termotivasi, loyal | Scalable, konsisten |
Solusi HR: Implementasi Job Architecture
- Lakukan job analysis untuk seluruh fungsi.
- Definisikan job families dan job levels.
- Buat job grading untuk keadilan kompensasi.
- Sosialisasikan ke karyawan melalui career framework handbook.
HR Action Plan:
- Integrasikan job architecture ke HRIS agar mudah diakses karyawan
- Hubungkan job architecture dengan sistem performance management
- Jadikan dasar perencanaan reward strategy & talent retention
- Review job architecture minimal setiap 2 tahun
Job architecture adalah fondasi strategis agar desain organisasi tetap transparan, scalable, dan berkeadilan.
