Strategi Retensi Gagal Karena Karyawan Sudah Burnout Terlebih Dahulu

Retensi tidak bisa dimulai ketika karyawan sudah ingin resign. Artikel ini menjelaskan pentingnya intervensi awal burnout prevention sebagai bagian dari strategi people operations.


Ilustrasi Awal:

Seorang karyawan top performer tiba-tiba mengundurkan diri. Saat exit interview, jawabannya simpel: “Saya sudah terlalu lelah untuk berpikir stay.”


Masalah:

Burnout adalah silent killer dalam strategi retensi.
Banyak HR terlalu fokus ke kompensasi atau karier, lupa bahwa energi mental dan kapasitas psikologis adalah syarat utama agar orang mau bertahan.


Tanda-Tanda Karyawan Mulai Burnout:

  1. Performa stabil tapi tidak berkembang
  2. Sering minta WFH tanpa kejelasan produktivitas
  3. Enggan ikut proyek baru
  4. Suara mereka mulai tidak terdengar di rapat

Solusi: Integrasikan Wellbeing ke Dalam Proses Retensi

1. Gunakan Pulse Survey Khusus Fatigue & Engagement
– Jangan hanya nanya engagement tahunan

2. Sisipkan “Recharge Slot” dalam Workload Planning
– Bukan cuti, tapi space dalam sprint mingguan

3. Berikan Opsi Internal Mobility, Bukan Hanya Promosi
– Kadang orang bosan, bukan tidak kompeten

4. Training Leader Mengenali Tanda Burnout Sejak Dini


Tabel: Retention Strategy yang Memuat Aspek Burnout

ElemenRetensi TradisionalRetensi Berbasis Wellbeing
FokusGaji & PromosiEnergi kerja dan kesehatan mental
Timing IntervensiSetelah tanda resignSebelum burnout muncul
Pelibatan AtasanOpsionalWajib

Penutup:

Retention strategy bukan soal membuat orang tidak resign, tapi memastikan mereka punya energi untuk bertahan.
Burnout prevention adalah bentuk retention paling awal.

Stay Updated!

Subscribe to get the latest blog posts, news, and updates delivered straight to your inbox.

By pressing the Sign up button, you confirm that you have read and are agreeing to our Privacy Policy and Terms and Conditions